Die at 27 : Legendarisasi Mistis Superstar Dunia

Posted: July 16, 2011 in Artikel Muzic

Mencapai kesempurnaan di puncak karir tentunya merupakan tujuan utama bagi umat manusia dimana saja di dunia ini untuk melengkapi sejarah gemilang perjalanan hidup mereka. Kiat yang dilakukan pun tak jarang melampaui batas pikiran normal manusia, atau yang disebut dengan cara “Mistik”.

Namun fenomena mistis “penyerahan jiwa” ternyata bukan hanya milik masyarakat Timur semata, karena di negara Barat hal tersebut pun bukannya sama sekali tidak terjadi, walaupun masih terlalu samar untuk dapat di ungkap, dimana kultur masyarakat dunia Barat kebanyakan lebih meyakini hal-hal mistik sebagai kejadian yang bersifat kebetulan belaka.

Sebuah fakta yang hingga kini masih menjadi pro dan kontra masyarakat musik dunia yang jarang mendapat sorotan masyarakat adalah fenomena “Die at 27”, yang mencatat beberapa nama superstar musik dunia yang meninggal di koridor usia “27”, tepat di puncak tertinggi karir mereka. Sebut saja nama-nama seperti Robert Johnson, Brian Jones, Jimmy Hendrix, Janis Joplin, Rhandy Road, Jim Morrison, Kurt Cobain, dll.

Dan bukan merupakan sebuah kebetulan jika nama-nama tersebut memang dikenal sebagai legendaris musik pada jamannya, sehingga menimbulkan bermacam-macam opini mistis dari masyarakat musik dunia tentang kematian mereka yang dianggap sebagai pribadi-pribadi pelaku ritual “penyerahan jiwa” kepada “iblis” demi kesempurnaan karir, dengan tengat “kontrak” hingga batas usia 27 tahun.

Kelompok-kelompok penggemar berat dari para legendaris musik dunia tersebut tentu saja tak rela untuk menilai idola-idola mereka tersebut seperti itu, apalagi melihat prestasi yang mereka ciptakan merupakan “warisan” yang tak ternilai bagi para generasi musisi penerus hingga kini. Seperti pujian bagi mereka melalui lagu yang ditulis dan dinyanyikan oleh penyanyi terkenal Billy Joel di era tahun 80-an berjudul “Only The Good Die Young”.

Namun fakta awal justru terungkap dari kisah hidup seorang musisi kondang kulit hitam, Robert Johnson, yang konon tewas dibunuh dengan bahan racun jenis strychnine oleh orang yang ditengarai merupakan pesaingnya, saat namanya tengah berada di puncak kejayaan sebagai seorang penyanyi sekaligus gitaris Blues handal di Amerika Serikat pada tahun 1938…tepat di usianya yang ke 27.

Latar belakang asmara, iri hati dan dengki memang menjadi modus resmi dari kematian sang “Dewa” musisi Blues tersebut. Akan tetapi kultur animisme dari para praktisi musik Blues yang dibawa oleh para budak kulit hitam dari benua Afrika ke benua Amerika di jaman itu, menghubungkan kematiannya dengan ritual penyerahan diri kepada iblis bernama “Dambalah” yang dilakukan Robert Johnson di tempat yang dianggap sebagai tempat pesugihan keramat para budak kulit hitam di wilayah Mississippi yaitu “Crossroads”, yang merupakan jalan persimpangan Routes 61 dan Routes 49 di kota Jackson Mississippi yang masing-masing menghubungkan kota Memphis ke arah Utara dan kota Greenwood ke arah Timur.

Bukti otentik tentang kenyataan tersebut bahkan di abadikan oleh Robert Johson sendiri melalui salah satu lagu gubahannya di tahun 1927 yang sangat terkenal hingga kini dengan judul “Crossroads”. Dan jika kita dalami salah satu baitnya yang berbunyi “I’m goin’ down to the crossroads, down on my kness…”, dapat disimpulkan sebagai sebuah pengalaman pribadi dari sang pencipta lagu tentang apa yang ia jalani, yaitu berlutut di area Crossroads sebagai simbol penyerahan diri.

Percaya atau tidak terhadap fenomena mistis tersebut, awal kebangkitan musik Blues sebagai akar musik modern di dunia, pada kenyataannya sarat dengan hal-hal berbau mistik dan praktek klenik. Hal tersebut secara terang-terangan kerap mengisi makna syair lagu yang diciptakan oleh para pionir-pionir musik Blues dunia. Seperti istilah “Voodoo” (dukun) atau “Mojo” (jimat). Bahkan hal gamblang tentang jimat yang dimiliki oleh seorang tabib merangkap dukun legendaris di wilayah Mississippi pada jaman itu yang bernama John Conguerroots pun di kisahkan oleh musisi Blues Muddy Waters melalui lagu ciptaannya berjudul “I’m the Hoochie Koochie Man”, yang pada bait ke dua menuliskan lirik sbb :

I got a black cat bone

I got a mojo too

I got the John Conguerrots

I’m gonna mess with you…

Sejalan dengan perubahan jaman, fenomena mistis warisan para legenda musik di dunia barat ternyata masih tetap membayangi para generasi penerus-nya. Karena percaya atau tidak, pada kasus-kasus tertentu kematian para legendaris musik di era tahun 60 hingga 70-an ditengarai masih merupakan kepanjangan dari kutukan “die at 27”. Walaupun tentunya melalui mediasi yang berbeda-beda.

Salah satu mediasi yang dipercaya sebagai alat ampuh sang “iblis” untuk mempengaruhi “korban-korban”-nya di jaman modern ini adalah apa yang disebut dengan zat adiktif “narkotika”.

Begitu dashyat-nya peredaran narkotika di kalangan para musisi besar di era tersebut begitu mengkhawatirkan, sehingga tidak berlebihan jika zat berbahaya itu menjadi bagian yang begitu melekat dalam kehidupan mereka kala itu yang akhirnya melahirkan idiom “Sex, drug and Rock n’roll”, dengan berbagai motif para penggunanya yang tentu saja bukan untuk di teladani oleh para generasi penerus.

Namun satu contoh yang cukup menarik adalah bagaimana kisah perjalanan hidup penyanyi legendaris kelompok musik kondang The Doors, Jim Morrison, dalam upaya-nya menuju tingkat kesempurnaan karir, dimana prinsip ketergantungannya terhadap narkotika jenis heroin dan cocaine terinspirasi oleh adat istiadat dan tradisi bangsa indian.

Seperti yang diketahui kebanyakan dukun-dukun bangsa Indian kuno di benua Amerika, mengkonsumsi zat semacam narkotika dosis tinggi dalam menjalankan tradisi ritual ke agamaan mereka, demi “mempersatukan diri” atau fokus kepada para dewa yang mereka yakini sebagai kesempurnaan jiwa. Puncaknya Jim Morrison ditemukan tewas akibat over dosis pada tanggal 3 Juli 1971 di apartemen-nya di kota Paris pada usianya yang ke “27”, dengan meninggalkan karya-karya besarnya.

Alasan ritual Jim Morrison tentu saja tak dapat diterima oleh tim penyidik kematiannya, yang tetap menganggap kematiannya merupakan satu dari sekian banyak kasus penyalah gunaan Narkotika. Namun kesaksian rekan satu group-nya Ray Manzarek cukup diyakini oleh kalangan penggemarnya, ketika pada suatu ketika pemain keyboard kelompok The Doors tersebut mengakui pernah melihat sosok Jim Morrison dikelilingi oleh arwah para leluhur bangsa Indian saat beraksi di atas panggung dalam sebuah kesempatan pertunjukkan yang mereka lakukan. Sungguhpun hal itu akhirnya terpatahkan ketika Ray Manzarek didiagnosa mengidap kelainan jiwa di penghujung karirnya, dan harus menjalani rehabilitasi untuk beberapa waktu.

Contoh kasus lain datang dari misteri kematian “dewa” aliran musik “Grunge”, Kurt Cobain, yang konon “menyerahkan jiwa”-nya tepat di usia 27 tahun dengan cara bunuh diri pada bulan Maret tahun 1994 di apartemen nya di kota Seattle, Washington.

Hingga kini tak ada seorangpun yang mampu menguak misteri kematian dari para superstar musik dunia di usia 27 tahun tersebut, untuk tetap menjadikannya sebagai sebuah kisah sejarah kehidupan “rekaan” demi bisnis dan popularitas. Tingkat kepercayaan akan fenomena “Die at 27” di kalangan masyarakat musik dunia pun berkembang dalam elevasi yang beragam hingga sekarang.

…bagaimana pandangan anda?

[Budi “Abuy” Lumy]
*mantan vokalis Time Bomb Blues & mantan Senior Editor ‘The Flag’

uncluster.com

Isi Komentar Anda Sebelum Gue Paksa !!! :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s